Di pedalaman Timor, di mana aroma kayu cendana sering kali membawa keberuntungan sekaligus petaka, hiduplah dua sahabat karib: Daniel (sering dipanggil Dan) dan Sakharias (biasa disapa Saka). Keduanya dikenal tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, terutama saat merencanakan hal-hal yang "menantang nyali".
Suatu malam yang cukup gelap, di bawah remang cahaya bulan, Dan dan Saka melancarkan aksi nekat. Mereka menebang satu pohon cendana yang aromanya tercium hingga ke desa tetangga. "Saka, cepat! Ini cendana paling wangi. Kita kaya raya!" bisik Dan sambil menebang. Saka yang berjaga di pinggir jalan menyahut, "Tenang Dan, aman! Cepat sedikit!"
Namun, "bunga cendana" rupanya belum berpihak pada mereka. Baru saja kayu itu dipikul, sirine polisi meraung. Keduanya panik, lari terbirit-birit, tapi akhirnya kena tangkap juga. Kayu cendana hasil curian dijadikan barang bukti, dan mereka berdua dibawa ke kantor polisi.
Di ruang pemeriksaan, polisi yang sudah lelah menghadapi kasus pencurian kayu, menatap mereka berdua dengan tajam.
"Kalian ini tidak kapok-kapok," kata Pak Polisi. "Sekarang jujur, siapa yang punya ide nekat ini? Siapa pencuri utamanya?"
Polisi pertama menanyai Dan. "Dan! Jujur! Siapa pencuri cendana ini sebenarnya?"
Dan, yang tidak mau masuk penjara sendirian, menunjuk Saka dengan wajah sok sedih. "Aduh Pak Polisi, saya ini cuma ikut-ikutan saja. Saya disuruh sama Saka. Tanya saja di dia, dia yang otak kejahatannya!"
Polisi kemudian beralih ke Saka. "Saka! Dan bilang kau yang suruh dia. Siapa yang curi cendana ini sebenarnya?"
Saka terkejut, matanya melotot menatap Dan, lalu tertawa kecut. "Hah! Dan bohong, Pak! Justru dia yang paling gila mau curi. Dia bilang kalau saya tidak ikut, saya yang bakal dituduh. Saya tahu dari Daniel, dia otak sebenarnya!"
Polisi geleng-geleng kepala. "Jadi kalian berdua tahu di masing-masing? Kalian berdua kompak saling tuduh?"
Dan dan Saka menunduk, menyadari bahwa taktik mereka untuk menyelamatkan diri justru membuat mereka berdua sama-sama tertahan. Di ruang tahanan yang sempit, aroma wangi cendana tak lagi terasa, berganti dengan aroma ketakutan dan penyesalan, serta persahabatan yang retak karena sebatang kayu.
Pesan Moral: Kompak dalam kejahatan hanya akan berakhir dengan kompak dalam penderitaan.
Cerita ini fiktif bukan kenyataan
penulis: Arid Oematan
Komentar