Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Bisikan Air Kali: Pelajaran Alam untuk Kono dan Janwar

Gambar
Bisikan Air Kali: Pelajaran Alam untuk Kono dan Janwar Di bawah langit Timor yang membentang luas di tahun 2026, udara sejuk khas perbukitan menyapa kulit. Di sebuah sudut asri di Timor Tengah Selatan, dua bersaudara, Kono Bait Oematan dan Janwar Neno Oematan, berlari riang menuju sumber air. Bagi mereka, kali bukanlah sekadar tempat bermain, melainkan ruang kelas terbuka yang paling jujur.Hari itu, air kali mengalir begitu jernih, memantulkan bayangan dedaunan hijau yang rimbun. Kono, dengan langkah yang lebih mantap, memimpin sang adik menyusuri bebatuan licin. Mereka menelusuri tepian, mengamati bagaimana ikan-ikan kecil berenang melawan arus dan akar-akar pohon besar mencengkeram tanah dengan kuat. Alam mengajarkan mereka tentang kehidupan dan ketahanan."Lihat Janwar," bisik Kono sambil menunjuk ke arah air, "air ini selalu mengalir dan tidak pernah berhenti belajar mencari jalan. Begitu juga kita, harus terus belajar memahami lingkungan dan bersahabat de...

Embun Ketaatan di Tanah Tune

Gambar
  Embun Ketaatan di Tanah Tune Kutipan Ibrani 13:17 Di lereng perbukitan Desa Tune yang asri, hiduplah seorang ketua kelompok tani bernama Petrus. Ia dikenal bukan karena kekuatannya, melainkan karena tanggung jawabnya yang besar. Baginya, kemajuan setiap keluarga di Tune adalah beban yang ia bawa dalam doa dan keringatnya. Suatu musim, Petrus mengajak seluruh warga untuk mencoba sistem pengairan baru dan rotasi tanaman. Beberapa warga mulai berbisik ragu. "Mengapa harus ikut aturan baru? Cara lama pun sudah cukup," keluh mereka. Namun, seorang pemuda bernama Yohanes teringat akan pesan orang tua:  Seorang pemimpin adalah penjaga jiwa dan kesejahteraan komunitasnya.  Yohanes pun mengajak warga lain untuk berhenti mengeluh dan mulai bekerja sama dengan penuh sukacita. Mereka mulai mengikuti arahan Petrus bukan karena terpaksa, melainkan karena percaya bahwa Petrus harus mempertanggungjawabkan hasil panen ini di hadapan Tuhan dan masyarakat. Melihat ketaatan dan d...

"Langkah Strategis Pelestarian Sejarah, Arid Oematan Koordinasi dengan Bidang Kebudayaan TTS Terkait Penetapan Cagar Budaya"

Gambar
Pada Senin, 27 Maret 2026, Arid Oematan melakukan pertemuan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), khususnya Bidang Kebudayaan. Pertemuan ini bertujuan untuk menindaklanjuti hasil identifikasi terhadap objek yang diduga cagar budaya (ODCB) di wilayah TTS. Langkah koordinasi ini menjadi krusial dalam mempercepat proses verifikasi dan kajian teknis agar objek-objek bernilai sejarah tersebut dapat segera ditetapkan secara resmi menjadi cagar budaya, guna perlindungan dan pelestarian warisan budaya lokal bagi generasi mendatang.

"JEJAK TANGGA BATU: Warisan Leluhur di Bubneo Batu Panab"

Gambar
"Jejak Tangga Batu: Warisan Leluhur di Bubneo Batu Panab" Di wilayah Timor Tengah Selatan, tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Bubneo Batu Panab, terhampar saksi bisu kehidupan nenek moyang masa lampau. Penelusuran di lokasi ini mengungkap sisa-sisa peradaban hunian tua yang menunjukkan tingginya kearifan lokal dalam memanfaatkan alam. Leluhur kita dahulu tidak membangun rumah di tanah yang rata, melainkan memilih area dengan kontur tebing atau bukit yang diatur sedemikian rupa. Pemandangan utama yang menakjubkan adalah pagar batu yang tersusun rapi, membentengi tempat hunian. Pagar batu ini bukan sekadar batas wilayah, melainkan fondasi pertahanan dan pembentuk teras hunian yang kokoh.  Keunikan yang paling menonjol adalah tangga batu yang tersusun rapi. Sebelum adanya pembangunan tangga permanen pada tahun 2018, tangga batu alam ini telah menjadi akses utama bagi nenek moyang. Tangga-tangga batu tersebut disusun secara manual, tanpa semen, namun mampu ...

"Lumbung yang Meluap: Rahasia Kebun Emas di Desa Tune"

Gambar
"Lumbung yang Meluap: Rahasia Kebun Emas di Desa Tune" Di sebuah lereng hijau di Desa Tune, Kecamatan Tobu, hiduplah lima sahabat dengan watak yang berbeda: Yudas, Simon, Pilatus, Matius, dan Sakheus. Mereka semua adalah petani jagung dan pemelihara ternak, namun nasib keuangan mereka berbeda bak langit dan bumi. 1. Jebakan "Gaya Dulu, Makan Nanti" Setiap kali panen tiba, Yudas dan Pilatus adalah orang pertama yang terlihat di pasar Kapan atau Soe. Mereka segera membeli motor baru dengan kredit dan mengganti ponsel paling canggih. "Hidup cuma sekali, harus dinikmati sekarang!" seru Pilatus sambil memamerkan jaket kulit mahalnya. Akibatnya, saat musim tanam berikutnya tiba, mereka harus meminjam uang dengan bunga tinggi untuk membeli bibit. 2. Strategi "Simpan Besarkan" Berbeda dengan mereka, Matius dan Simon memiliki prinsip "Simpan Besarkan". Saat panen besar, mereka tidak mengganti baju atau gaya hidup. Mereka tetap memaka...

Aroma Cendana dan Sumpah Serapah Dua Sahabat

Gambar
Di pedalaman Timor, di mana aroma kayu cendana sering kali membawa keberuntungan sekaligus petaka, hiduplah dua sahabat karib: Daniel (sering dipanggil Dan) dan Sakharias (biasa disapa Saka). Keduanya dikenal tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, terutama saat merencanakan hal-hal yang "menantang nyali". Suatu malam yang cukup gelap, di bawah remang cahaya bulan, Dan dan Saka melancarkan aksi nekat. Mereka menebang satu pohon cendana yang aromanya tercium hingga ke desa tetangga. "Saka, cepat! Ini cendana paling wangi. Kita kaya raya!" bisik Dan sambil menebang. Saka yang berjaga di pinggir jalan menyahut, "Tenang Dan, aman! Cepat sedikit!" Namun, "bunga cendana" rupanya belum berpihak pada mereka. Baru saja kayu itu dipikul, sirine polisi meraung. Keduanya panik, lari terbirit-birit, tapi akhirnya kena tangkap juga. Kayu cendana hasil curian dijadikan barang bukti, dan mereka berdua dibawa ke kantor polisi. Di ruang pemeriksaan, pol...

🔥Bukit Bubneo 🔥 Jejak Langkah di Tangga Waktu

Gambar
🔥Bukit Bubneo 🔥Jejak Langkah di Tangga Waktu Meski tangga permanen baru menyentuh tanah Bukit Bubneo pada tahun 2018, denyut kehidupan di puncaknya telah berdetak jauh lebih lama. Setengah abad silam, jauh sebelum beton semen memudahkan langkah, masyarakat setempat telah mendaki bukit ini melalui jalan setapak yang terjal demi menghormati akar mereka. Bagi warga, Bubneo bukan sekadar gundukan tanah dan pepohonan; ia adalah tempat persemayaman leluhur yang sakral. Selama puluhan tahun, aktivitas masyarakat di sana adalah bentuk komunikasi antara generasi masa kini dan roh nenek moyang yang menjaga tanah tersebut. Kini, melalui aksi pembersihan dan pembangunan fasilitas, Bukit Bubneo bersiap menyambut masa depan tanpa sedikit pun meninggalkan kemuliaan sejarah yang telah dijaga selama 50 tahun terakhir.  #semuaorang #infopublik

🙏Tangga Bubneo 🙏Memahat Jejak di Atas Keraguan 👍

Gambar
🙏Tangga Bubneo 🙏 Memahat Jejak di Atas Keraguan 👍 Bukit Bubneo telah menjadi rumah bagi masyarakat selama puluhan tahun, namun keberadaannya sering kali diterpa silang pendapat. Di satu sisi, ada yang meragukan nilai sejarahnya; di sisi lain, ada klaim-klaim pribadi hingga upaya sistematis untuk menghapus memori masa lalu bukit ini. Melihat kegelisahan tersebut, Bapak Agustinus Baun bersama Arid Oematan mengambil langkah nyata. Mereka tidak ingin identitas Bubneo hilang begitu saja. Melalui inisiatif yang gigih, mereka mengusulkan pembangunan tangga permanen ke dalam perencanaan desa. Pada tahun 2018, tangga tersebut resmi dibangun. Meski fisiknya tergolong baru, setiap anak tangga yang tertanam adalah simbol perlawanan terhadap lupa. Tangga ini bukan sekadar sarana aksesibilitas, melainkan penegasan bahwa Bubneo memiliki sejarah yang patut diakui dan dijaga oleh masyarakat yang telah mendiaminya selama berdekasi-dedikasi.  #semuaorang

HATSAMPAOT: Menenun Kemandirian, Memanen Kesejahteraan

Gambar
  Sejarah Singkat Pembentukan UBSP Hatsampaot Awal Mula yang Sederhana Perjalanan UBSP Hatsampaot (HP) dimulai dari sebuah diskusi hangat di rumah  Bapak Arid E. P. Oematan  yang terletak di Desa Tune, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tepat pada tanggal  24 Oktober 2022 , sebanyak 13 orang tokoh setempat berkumpul dengan semangat yang sama: membebaskan diri dari keterbatasan ekonomi melalui wadah koperasi yang mandiri. Mereka yang menjadi saksi sejarah berdirinya kelompok ini adalah Harlenci Tampani, Semri Sonbai, Nofri Polly, Henderina Polly, Absalom Olla, Adolina Anin, Yosefat Oematan, Jefris Baun, Sinsen Fallo, Maksi Oematan, Derven Olla, Rince Polly, dan Sinsigus Olla. Dalam pertemuan perdana tersebut, disepakati struktur kepengurusan awal dengan  Arid E. P. Oematan  sebagai Ketua,  Jefris Baun  sebagai Sekretaris, dan  Yorni Olla  sebagai Bendahara. Pertumbuhan dan Perkembangan Sejak hari itu, Hatsampaot terus...

"Jarak Sosial dalam Sunyi"

Gambar
Kucing atau Anjing yang Pemalu: Meskipun peliharaan, dua ekor kucing atau anjing yang belum kenal dekat tapi ditaruh dalam satu kelompok sering menunjukkan perilaku "kaku". Mereka saling memandang, mendekat dengan pelan, memalingkan muka (khas salah tingkah/menghindar dari kontak mata langsung), namun saling mengendus karena butuh memastikan keamanan satu sama lain. Ilustrasi tersebut menggambarkan perilaku alami kucing atau anjing yang sedang dalam tahap adaptasi atau perkenalan dengan individu baru dalam lingkungan mereka. Perilaku "kaku", memalingkan muka, dan mengendus merupakan sinyal komunikasi sosial yang kompleks untuk memastikan keamanan. Cerita tersebut menguraikan bahwa meskipun hewan peliharaan, mereka membutuhkan waktu untuk penyesuaian diri guna memastikan keamanan satu sama lain sebelum bersosialisasi secara normal.

"Ikatan Bubneo: Fajar Harapan dari Hatsampaot"

Gambar
Cerita Inspirasi Kelompok Hatsampaot Di tanah Mollo yang dingin, di sebuah tempat bernama Bubneo, sejarah mencatat sebuah kisah tentang kesetiaan dan kebersamaan. Bubneo bukan sekadar tempat, melainkan saksi bisu penantian dua bersaudara perempuan dari marga Kono dan Oematan. Dalam cerita tradisional, mereka menunggu kedatangan raja dengan penuh ketaatan dan harapan. "Hat" (Bersedia/Menanti) dan "Paot" (Menunggu) adalah dua kata yang menggambarkan mentalitas mereka. Bukan menunggu dalam diam yang sia-sia, melainkan menunggu dengan persiapan, "bersedia" untuk menyambut masa depan yang lebih baik. Waktu berlalu, namun semangat itu tidak pernah mati. Kisah ini kemudian dihidupkan kembali dalam bentuk kelompok usaha bersama simpan pinjam, Hatsampaot. Hatsampaot bukan hanya soal meminjam uang, melainkan tentang bagaimana marga Kono dan Oematan, serta anggota komunitas di dalamnya, berkumpul kembali—seperti dua saudara perempuan di Bubneo. Hatsampaot...

[MEMORIES: APRIL 2021 - Semangat Desa Tune]

Gambar
[MEMORIES: APRIL 2021 - Semangat Desa Tune] Mengunggah kembali momen inspiratif Tanggal 9-10 Bulan April tahun 2021, di mana sinergi kuat terbangun antara Pemerintah Desa Tune, tokoh masyarakat, dan warga dalam kajian partisipatif menggunakan metode ABCD (Asset-Based Community Development). Berbeda dengan pendekatan konvensional yang fokus pada masalah, kegiatan ini difokuskan pada pemetaan dan optimalisasi aset/potensi lokal (SDM, kelembagaan, dan sumber daya alam) yang sudah ada di desa. Cerita Inspirasi: Tahun 2021 adalah momen krusial untuk bangkit. Melalui kajian ini, masyarakat Desa Tune diajak untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri—menemukan kelebihan dan potensi, bukan meratapi kekurangan. Partisipasi aktif warga dalam tahap Discovery (Menemukan) dan Dream (Memimpikan Masa Depan) melahirkan rasa kepemilikan yang tinggi terhadap pembangunan desa. Semangat kebersamaan yang terekam dalam foto ini menjadi fondasi awal bagi terwujudnya kemandirian masyarakat Desa T...

🔥*"FILOSOFI EMBER BOCOR"* 🔥

Gambar
🔥*"FILOSOFI EMBER BOCOR"* 🔥  Adalah pengingat yang sangat kuat bagi kelompok usaha seperti Sinar Pualam Kaenka. Intinya sederhana: Percuma kita terus-menerus mengisi ember dengan air (pendapatan), jika di dasarnya ada lubang (pengeluaran yang tidak perlu atau inefisiensi). Berikut adalah poin-poin motivasi dalam membangun ekonomi kelompok berdasarkan filosofi tersebut: 1. Fokus pada "Menambal", Bukan Hanya "Mengisi" Banyak orang berpikir solusi dari masalah keuangan adalah mencari modal lebih besar atau menjual lebih banyak. Namun, jika sistem manajemen keuangan kelompok masih berantakan, uang sebanyak apa pun akan habis. Mulailah dengan menutup kebocoran kecil: pemborosan bahan baku, biaya transportasi yang tidak efektif, atau pengeluaran pribadi yang bercampur dengan kas kelompok. 2. Membangun dengan Apa yang Dimiliki Kalimat "membangun dengan apa yang kita miliki" adalah bentuk nyata dari menambal ember. Daripada memaksakan membe...

🔥 FILOSOFI 🔥😀MANUSIA PEDATI 😀🙏MANUSIA MERPATI 🙏❤️ MANUSIA SEJATI ❤️

Gambar
🔥 FILOSOFI 🔥 😀MANUSIA PEDATI 😀 🙏MANUSIA MERPATI 🙏 ❤️ MANUSIA SEJATI ❤️ Filosofi TIPE MANUSIA Pedati, Merpati, dan Sejati merupakan sebuah perumpamaan yang sering digunakan dalam dunia organisasi atau koperasi untuk menggambarkan karakter dan mentalitas seseorang dalam bekerja sama. Secara umum, berikut adalah pembagian filosofinya: 1. Manusia Pedati (Tipe Terpaksa) Seseorang dengan mentalitas "pedati" baru akan bergerak atau bekerja jika ada dorongan yang kuat dari luar. Karakteristik: Pasif dan cenderung menunggu perintah. Filosofi: Seperti pedati (gerobak sapi) yang hanya jalan jika ditarik atau dicambuk, orang tipe ini membutuhkan pengawasan ketat dan motivasi eksternal (seperti ancaman atau imbalan langsung) agar mau berkontribusi.  2. Manusia Merpati (Tipe Pamrih) Seseorang dengan mentalitas "merpati" akan bekerja dengan baik, namun selalu mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya. Karakteristik: Aktif selama ada keuntungan pribadi yang didapat....

Prinsip "Jangan Main-main": Rahasia Sukses Yosefat Oematan Mengubah Nasib Petani.

Gambar
Melalui program kemitraan dengan Caritas Australia dan Yayasan Mitra Tani Mandiri, Yosefat Oematan menekankan bahwa perubahan pola pikir dari sekadar bertani untuk makan menjadi bertani sebagai bisnis adalah kuncinya. Dengan prinsip "kerja jangan main-main", kelompok ini berhasil mengelola komoditas seperti hortikultura dan peternakan hingga mampu menghasilkan pendapatan puluhan hingga ratusan juta rupiah, yang berdampak langsung pada kemampuan anggota menyekolahkan anak dan memperbaiki rumah. #pengikut #teman #petani #pertanian Penulis: ARID OEMATAN 

"Mulai dengan apa yang kita tahu dan membangun dengan apa yang kita miliki"

Gambar
Maxsi Oematan, seorang petani dari Kelompok Tani Pelita di Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil mentransformasi praktik pertanian tebas bakar (ladang berpindah) menjadi pertanian lahan tetap yang menetap dan berkelanjutan. Kisah sukses ini didorong oleh filosofi pemberdayaan yang menekankan untuk "mulai dengan apa yang kita tahu dan membangun dengan apa yang kita miliki".  #semuaorang #petani #pertanian Penulis: ARID OEMATAN 

Dari Ladang ke Kemandirian: Peran Baru Perempuan Desa Tune dalam Pasca Panen

Gambar
Berikut adalah cerita singkat mengenai transisi paradigma pengolahan pasca panen yang disampaikan oleh Ibu Harlenci Tampani: Di tengah perbukitan Desa Tune , Ibu Harlenci Tampani berdiri dengan bangga mewakili kaum perempuan dari Kelompok Tani Sinar Puinlam Kaenka.  Di hadapan tim evaluator program Desa Terpadu dari Caritas Australia, ia mengisahkan perjalanan transformasi desa mereka dari tradisi lama menuju paradigma baru. Dahulu, para petani terjebak dalam kebiasaan pasca panen yang sederhana namun berisiko: hasil panen hanya disimpan seadanya tanpa proses pengolahan, yang seringkali berujung pada kerusakan akibat hama atau harga jual yang anjlok saat musim panen tiba. Namun, melalui pendampingan program ini, Ibu Harlenci dan kelompoknya mulai mengadopsi cara pandang baru. Mereka kini tidak lagi sekadar "memanen dan menjual," melainkan mulai memahami teknik pengemasan dan penyimpanan yang lebih modern guna menjaga kualitas produk pertanian mereka. "Perempu...

🔥FAJAR HARAPAN DARI TUNE 🔥❤️ 🙏Mengubah Tanah Kering Menjadi Emas Hijau ❤️🙏

Gambar
🔥FAJAR HARAPAN DARI TUNE 🔥 ❤️ 🙏Mengubah Tanah Kering Menjadi Emas Hijau ❤️🙏 Di bawah kaki bukit Desa Tune , Kabupaten Timor Tengah Selatan, Desa Tune dulu dikenal sebagai wilayah yang menantang. Tanah yang kering saat musim kemarau dan keterbatasan alat seringkali membuat semangat para petani meredup sebelum panen tiba. Namun, kisah itu berubah sejak April 2021. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa, Aderiana Pilis, Desa Tune menetapkan tekad: "Petani adalah Tulang Punggung, Desa Adalah Penopang." Aderiana Pilis memahami bahwa niat baik tanpa sarana adalah kesia-siaan. Oleh karena itu, melalui program pembangunan desa terpadu, pemerintah desa mengambil langkah berani. Dari April 2021 hingga Februari 2026, lebih dari Rp 800 juta Dana Desa dialokasikan khusus untuk bahan dan alat kelompok tani. “Ini bukan sekadar angka atau bantuan fisik,” tegas Aderiana dalam sambutannya saat menerima tim evaluator dari Caritas Australia. “Ini adalah investasi kepercayaan. Kami ing...

🔥Cerita Motivasi Hidup 🔥 🙏Berkat di Balik Adonan Roti 🙏

Gambar
 🔥Cerita Motivasi Hidup 🔥 🙏Berkat di Balik Adonan Roti 🙏 Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang ibu bernama Sarah yang berjualan roti. Hasil penjualannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Namun, Sarah selalu memegang prinsip "Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu". Setiap pagi, sebelum mulai mengaduk adonan, ia berdoa agar Tuhan memberkati adonannya.  Ia tidak pernah mengurangi takaran, tidak pernah memakai bahan murah, dan selalu jujur dalam berdagang. Meskipun tetangganya bilang ia bisa untung lebih besar jika curang, Sarah tetap setia. Suatu masa, terjadi krisis ekonomi. Banyak toko roti tutup. Namun, anehnya, roti Sarah tetap laris. Pelanggan merasa roti Sarah memiliki "rasa yang berbeda"—rasa cukup dan damai. Ternyata, kejujuran dan ketaatan Sarah membuat usahanya bertahan. 🔥Pesan Motivasi:🔥 Seperti Sarah, jangan meremehkan pekerjaan Anda saat ini. Jangan takut berbuat jujur. Ketika Anda menjadikan Tuhan sebagai "partner" dalam tempat adon...

Semangat Baru dipelatatan Agung Bubneo

Gambar
  🔥Semangat Baru dari Pelataran Agung BUBNEO: Berhenti Menunggu, Mulai Menanam 🔥 Oleh: ARID OEMATAN  🙏TUNE, TOBU – Di bawah langit Desa Tune, tepatnya di Pelataran Agung BUBNEO, sebuah babak baru sejarah pertanian Timor Tengah Selatan sedang ditulis. Sabtu, 14 Maret 2026, bukan sekadar perayaan doa panen biasa bagi 26 kepala keluarga yang mengelola hamparan 200 are tersebut. Hari itu adalah momentum "patahkah kebiasaan lama" untuk menjemput kemandirian. 🙏 Di sela-sela rasa syukur atas hasil bumi, Agus Baun selaku tokoh adat sekaligus pemilik lahan, duduk melingkar bersama tokoh-tokoh penggerak seperti Antonius Baun, Piter Banu, Yohan D. Olla, Menase Tefa, Matias Bay, Sipri Leltakaeb, hingga Nahor Anin. Mereka sepakat: setelah panen ini, tanah tidak boleh lagi dibiarkan tanpa rencana. "Kita punya aset, kita punya tenaga. Jangan lagi tangan kita menengadah menunggu bantuan, tapi mari kita gunakan tangan ini untuk membelah tanah dan membuat perubahan," tegas mereka...

🔥Cahaya Baru dari Pematang Tune🔥

Gambar
👍Dulu, senja di Desa Tune seringkali terasa sunyi. Banyak kepala keluarga yang hanya bisa menatap hamparan lahan dengan getir; hasil panen melimpah, namun jerat tengkulak dan harga yang anjlok membuat dapur sulit mengepul. Kemiskinan seolah menjadi warisan yang sulit diputus. Namun, Tune tidak lagi sama sejak warganya berhenti meratapi apa yang kurang dan mulai menghitung apa yang mereka punya. Perubahan dimulai dari Kelompok Tani. Mereka tak lagi bekerja sendiri-sendiri.  Dengan semangat Gemohing (gotong royong), mereka memetakan aset tanah dan benih lokal sebagai modal utama. Tanah yang dulu gersang kini menjadi lumbung harapan karena dikelola dengan ilmu dan kebersamaan. Harapan itu semakin nyata saat Kelompok Pengolahan Pasca Panen terbentuk. Para ibu dan pemuda desa mulai mengolah hasil mentah menjadi produk bernilai tinggi. Jagung tak lagi dijual karungan dengan harga murah; ia kini menjadi produk olahan yang punya nama. Mereka sadar bahwa tangan-tangan terampil warga Tune a...

Setetes Harapan di Gelas Kehidupan

Gambar
  Setetes Harapan di Gelas Kehidupan : Semangat Hortikultura UBSP Talitakum Oleh: ARID OEMATAN  "Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) Talitakum hadir bukan sebagai sekumpulan orang yang sempurna, melainkan mereka yang pernah terjatuh namun memilih untuk menyambut uluran tangan Tuhan dan bangkit bersama." Gelas yang Tak Harus Penuh Bayangkan perjuangan kita seperti sebuah gelas. Banyak orang merasa gagal hanya karena gelas mereka tidak terisi penuh oleh air keberhasilan. Padahal, untuk memulai sebuah inovasi di ladang hortikultura, kita tidak butuh gelas yang meluap. Walau air di dalam gelas itu hanya  setengah , ia tetaplah berisi. Setengah gelas air itu adalah modal keberanian kita. Ia cukup untuk membasahi benih yang kering, cukup untuk memberi napas pada tunas cabai yang baru menyembul, dan cukup untuk menjaga asa agar tidak layu di bawah terik matahari cobaan. Inovasi bukan tentang kesempurnaan sejak awal, melainkan tentang bagaimana kita mengelola ...