Bisikan Air Kali: Pelajaran Alam untuk Kono dan Janwar

Gambar
Bisikan Air Kali: Pelajaran Alam untuk Kono dan Janwar Di bawah langit Timor yang membentang luas di tahun 2026, udara sejuk khas perbukitan menyapa kulit. Di sebuah sudut asri di Timor Tengah Selatan, dua bersaudara, Kono Bait Oematan dan Janwar Neno Oematan, berlari riang menuju sumber air. Bagi mereka, kali bukanlah sekadar tempat bermain, melainkan ruang kelas terbuka yang paling jujur.Hari itu, air kali mengalir begitu jernih, memantulkan bayangan dedaunan hijau yang rimbun. Kono, dengan langkah yang lebih mantap, memimpin sang adik menyusuri bebatuan licin. Mereka menelusuri tepian, mengamati bagaimana ikan-ikan kecil berenang melawan arus dan akar-akar pohon besar mencengkeram tanah dengan kuat. Alam mengajarkan mereka tentang kehidupan dan ketahanan."Lihat Janwar," bisik Kono sambil menunjuk ke arah air, "air ini selalu mengalir dan tidak pernah berhenti belajar mencari jalan. Begitu juga kita, harus terus belajar memahami lingkungan dan bersahabat de...

Atukus Neo Feot Bikaunan ma Feot Bimese

 


Dua Orang dari Tujuh Bersaudara, Lima sudah wafat sisa Dua Orang, mereka dilahirkan dari moyang To Oematan dan Neno Tefa (Welem Hendrik Oematan dan Yuliana Tefa) berhubungan di Bestaumuti dulu dikenal nama Bubneo, terdapat turunan Kono dan Oematan dari Feotnai (Feot Bikaunan ma Feot Bimese),  maka dilakukan rembug tetua adat turunan dari dua feotnai untuk memiliki satu orang Atukus, berhubung jarak Nunbena dan Miomafo agak jauh. maka rembug tersebut menghasilkan kesepakatan dan diberikannyalah utusan untuk berangkat ke Oelalali (Nunbena) untuk menyampaikan terkait Atukus Feotnai di Bubneo, (Pua litas fua faon ma Manu Putif Futu Faon) dengan demikian maka jawaban dari Nunbena Pulang dan segera cari/panggil, rangkul karena yang kamu cari bukan dibubneo tetapi ada di tempat lain (Fani nai ma Musikmane ai Lete Nunenis ma Nunuh Nunenis Na Aefnan ma nataunan) 



kalimat diatas dijelaskan bahwa pada saat itu To Oematan sudah berumur delapan belas tahun, namun To Oematan sering jalan-jalan ke nunenis saat itu, nah kebetulan To Oematan ini dilahirkan oleh Baki Saba yang memiliki keluarga di nunenis, To alias Welem H. Oematan ayahnya dari nunbena bernama Konotabelak Oematan menikah dengan Baki Saba, kemudian melahirkan To Oematan (Welem H. Oematan), Konotabelak Oematan pulang kembali ke Nifu sehingga To Oematan dibesarkan oleh Baki Saba, inipun sekitar lima tahun baki saba meninggal dan To diasuh oleh neneknya To/Funan Olla. 

Rumah Adat Puinlam Kaenka


Balasan dari Nifu/Nunbena dan Kebijakan

Setelah para utusan mendengar jawaban dari Nifu maka kembalilah mereka ke bubneo, sesampai disana mereka menyampaikan bahwa atukus yang dicari ialah To Oematan alias To Mese, maka dijemput To mese dari nunenis dibawa ke bubneo sehingga dilakukan musyawarah pengukuhan Atukus untuk Feot Bimese dan Feot Bikaunan, (mautnai To neno i matabu i homfaenkum aneot ma ahafot, atukus ma anonot neo feot bimese ma feot bikaunan, lasjet anaonanen ma menset anaonanen, amkehmaenkum koeblasi ma koebmenas, homfaenkum onle nanum ai bubuk in’oen he anin anfu neman tab, holenan Aonanum ma Aobubuk) itulah kalimat sakral yang diucapkan pada saat itu, beberapa tahun kemudian wafatlah To Oematan dan digantikan putra sulung Zakarias Oematan, kemudian 16 Maret 2019 dikukuhkan Petrus Oematan dan didampingi oleh adiknya Ruben Oematan menjadi atukus musyawarah adat tersebut diselenggarakan di Ume Puinlam Kaenka/Ume Nun’isu, (mutuk bimese ma bikaunan he uis oematas anpu knit saon napjam tunbes hatmampao ai uis konos anpu knit saon leonam nunaum hatmampao.)sampai saat ini Bapak Petrus Oematan dan Bapak Ruben Oematan membangun rekonsiliasi dan relasi dengan para marga besar Olla,Anone dan Anin Anone dalam membangun kebersamaan dan mewujudkan bubneo kembali pulih dengan program pengembangan, pengelolaan, pelestarian dan pemanfaatan tradisi budaya yang terancam punah.

 

Tulisan ini diberitakan kepada semua turunan para aktor yang disebut dalam tulisan ini agar menjadi media belajar dan jika terdapat kekeliruan atau kekurangan maka bisa disempurnakan.

 



Komentar

Unknown mengatakan…
O ya inilah jln ceritax, mantap n mudah-mudahan cerita ini menjadi pegangan bagi kita sebagai anak cucu sampai generasi berkut.

Postingan populer dari blog ini

"Lentera yang Tak Pernah Padam: Warisan Pendidikan dan Kemandirian Petronela Talan"

Pe'Ot ai Nu'an Ume Puinlam Kaenka

Setetes Harapan di Gelas Kehidupan